Mencari Solusi dan Bukan Kolusi

July 2016

Bulu mata yang dikenakan di kelopak mata atau di bagian manapun pada mata, jika ia terbuat dari rambut maka tidak ragu lagi keharamannya. Karena ini termasuk perbuatan menyambung rambut, dan terdapat hadits Nabi yang berisi laknat terhadap al washilah (wanita yang menyambung rambut) dan mustaushilah (wanita yang meminta disambung rambutnya).
www.gandri.org

Jika ia terbuat dari bahan lain, namun bentuknya mirip dengan bulu mata yang terbuat dari rambut, maka hukumnya tidak berbeda. Karena orang yang melihatnya akan mengatakan bahwa ia washilah (wanita yang menyambung rambut).

Jika ia terbuat dari bahan yang selain rambut dan tidak menyerupai bulu mata yang terbuat dari rambut, maka ini hukumnya minimal makruh. Karena di sini tetap ada penyambungan. Hanya saja memang yang terlarang dalam nash adalah menyambung yang berupa rambut dan yang semakna dengannya serta yang semisalnya dengannya dalam hukum dikarenakan adanya unsur tasyabbuh. Jika ada unsur tasyabbuh (menyerupai rambut bulu mata) maka haram untuk menyambungnya apapun bahannya.

Apapun kondisinya, setiap muslimah hendaknya bertaqwa kepada Allah Jalla wa ‘ala dan hendaknya ia ridha dengan apa yang Allah takdirkan kepadanya serta ridha terhadap keadaan fisik yang Allah ciptakan untuknya.

Sumber : muslimah.or.id

Banyak orang yang tidak menyadari bahwa Al-Qur’an membahas mengenai usia 40 tahun. Hal ini sebagai pertanda bahwa ada hal yang perlu diperhatikan dengan serius pada pembahasan usia 40 tahun ini. Allah Ta’ala berfirman, “Apabila dia telah dewasa dan usianya sampai empat puluh tahun, ia berdo’a, “Ya Rabb-ku, tunjukkanlah kepadaku jalan untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan supaya aku dapat berbuat amal yang shaleh yang engkau ridhai. Berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Al-Ahqaf : 15).

TAHUN
Usia 40 tahun disebutkan dengan jelas dalam ayat ini. Pada usia inilah manusia mencapai puncak kehidupannya baik dari segi fisik, intelektual, emosi, maupun spiritualnya. Ia benar-benar telah meninggalkan usia mudanya dan melangkah ke usia dewasa yang sebenar-benarnya. Do’a yang terdapat dalam ayat tersebut dianjurkan untuk dibaca oleh mereka yang berusia 40 tahun atau lebih. Di dalamnya terkandung penjelasan yang jelas bahwa mereka telah menerima nikmat yang sempurna, kecenderungan untuk beramal yang positif, telah mempunyai keluarga yang harmonis, kecenderungan untuk bertaubat dan kembali kepada Allah Ta’ala.
Pada ayat yang lain Allah Ta’ala berfirman: “Apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepadamu pemberi peringatan?” (QS. Fathir : 37)
Para ulama salaf menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan “umur panjang dalam masa yang cukup untuk berfikir” dalam ayat tersebut adalah ketika berusia 40 tahun.
Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat tersebut memberikan petunjuk bahwa manusia apabila menjelang usia 40 tahun hendaklah memperbarui taubat dan kembali kepada Allah dengan bersungguh-sungguh. Apabila hal itu berlaku menjelang usia 40 tahun, maka Allah memberikan janji-Nya dalam ayat setelahnya, yaitu kematangan. Usia 40 tahun adalah usia matang bagi kita bersungguh-sungguh dalam hidup. Mengumpulkan pengalaman, menajamkan hikmah dan kebijaksanaan, membuang kejahilan ketika usia muda, lebih berhati-hati, melihat sesuatu dengan hikmah dan penuh penelitian. Maka tidak heran tokoh-tokoh pemimpin muncul secara matang pada usia ini. Bahkan Nabi kita tercinta, Muhammad SAW pun demikian. Sebagaimana yang disebutkan oleh Ibnu Abbas, “Diutusnya Rasulullah (yaitu) pada usia 40 tahun.” (HR. Al-Bukhari).
Nabi Muhammad SAW diutus menjadi nabi tepat pada usia 40 tahun. Begitu juga dengan nabi-nabi yang lain, kecuali Nabi Isa AS dan Nabi Yahya AS. Mayoritas negara juga mensyaratkan bagi calon-calon yang akan menduduki jabatan-jabatan elit seperti ketua negara, harus telah berusia 40 tahun. Masyarakat pun mengakui bahwa mantabnya prestasi seseorang tatkala orang tersebut telah berusia 40 tahun.

Mengapa umur 40 tahun begitu penting? Menurut Ibnu Qayyim Al-Jauziyah usia manusia diklasifikasikan menjadi 4 (empat) periode, yaitu: (1) Anak-anak (aulad); sejak lahir hingga akil baligh, (2) Pemuda (syabab); sejak akil baligh hingga 40 tahun, (3) Dewasa (kuhul); 40 tahun hingga 60 tahun, (4) Tua (syuyukh); 60 tahun ke atas.

Usia 40 tahun adalah usia ketika manusia benar-benar meninggalkan masa mudanya dan beralih kepada masa dewasa sempurna. Kenyataan yang paling menarik pada usia 40 tahun ini adalah meningkatnya minat seseorang terhadap agamanya yang semasa mudanya jauh sekali dengan agamanya. Baik dengan menjalankan kewajiban shalat lima waktunya dengan berjama’ah dan tepat waktu, memperbanyak sedekah, menutupi auratnya, atau dengan mengikuti kajian-kajian keagamaan. Seolah-olah di usia ini merupakan momentum kembalinya manusia kepada fitrahnya. Namun jika ada orang yang telah mencapai usia ini, akan tetapi tidak ada minat terhadap agamanya, maka hal ini sebagai pertanda yang buruk dari kesudahan umurnya di dunia.Wal iyaadzu billaah.

Salah satu keistimewaan usia 40 tahun tercermin dari sabda Rasulullah SAW, “Seorang hamba muslim apabila usianya mencapai 40 tahun, Allah akan meringankan hisabnya (perhitungan amalnya).” (HR. Ahmad)

Hadits ini menyebutkan bahwa usia 40 tahun merupakan titik awal seseorang memiliki komitmen terhadap penghambaan kepada Allah Ta’ala, sekaligus konsisten terhadap Islam, sehingga Allah Ta’ala pun akan meringankan hisabnya. Inilah keistimewaan orang yang mencapai usia 40 tahun. Akan tetapi, usia 40 tahun merupakan saat di mana orang harus berhati-hati juga. Ibarat waktu, orang yang berumur 40 tahun mungkin sudah masuk waktu senja.

Abdullah bin Abbas mengatakan, “Barangsiapa mencapai usia 40 tahun dan amal kebajikannya tidak mantab dan tidak dapat mengalahkan amal keburukannya, maka hendaklah ia bersiap-siap ke neraka.”

Imam Asy-Syafi’i tatkala mencapai usia 40 tahun, beliau berjalan sambil memakai tongkat. Jika ditanya, maka beliau menjawab, “Agar aku ingat bahwa aku adalah musafir. Demi Allah, aku melihat diriku sekarang ini seperti seekor burung yang dipenjara di dalam sangkar. Lalu burung itu lepas di udara, kecuali telapak kakinya saja yang masih tertambat dalam sangkar. Komitmenku sekarang seperti itu juga. Aku tidak memiliki sisa-sisa syahwat untuk menetap tinggal di dunia. Aku tidak berkenan sahabat-sahabatku memberiku sedikit pun sedekah dari dunia. Aku juga tidak berkenan mereka mengingatkanku sedikit pun tentang hiruk pikuk dunia, kecuali hal yang menurut syari’at lazim bagiku.”

Kematian Bisa Datang Kapan Saja

Satu perkara yang kita harus senantiasa kita sadari bahwa kematian bisa memanggil kita kapan saja tanpa tanda, tanpa alamat dan tanpa mengira usia. Jika kita beranggapan harus menunggu usia 40 tahun untuk mulai memperbaiki diri, maka rugi dan sia-sia lah hidup kita jika ternyata umur kita tidak panjang.

Maka dari itu, di sisa-sisa usia kita ini, marilah kita mulai berbenah diri, meneguhkan tujuan hidup, meningkatkan daya spiritual, memperbanyak bersyukur, menjaga makan dan tidur, serta menjaga keistiqamahan dan berusaha meningkatkan kualitas dalam beribadah.

Banyak manusia yang tertipu dengan keindahan dunia dan isinya yang bersifat sementara. Mengingati mati bukan berarti kita akan gagal di dunia ini. Akan tetapi dengan mengingati mati kita berharap menjadi insan yang berjaya di dunia dan di akhirat kelak. Janganlah menunggu hingga esok untuk membuat persediaan menghadapi kematian, karena mati boleh datang kapan saja.

Akhirnya, semoga kita bisa memaksimalkan sisa-sisa umur kita ini untuk memperbanyak amal shaleh.

Sumber : tausiah-islamiah.blogspot.com

Pada suatu sore yang sepi, terlihat seorang perempuan   berjalan terhuyung-huyung. Pakaiannya yang serba gelap menunjukkan bahwa dia sedang berada dalam kesedihan yang dalam. Kerudungnya menutupi hampir seluruh mukanya. 
DOSA

Tanpa rias muka atau perhiasan menempel pada tubuhnya. Kulit yang bersih, badan yg ramping serta roman mukanya yang ayu, tidak bisa menghapus kesan kepedihan yang sedang mengoyak hidupnya. Dia melangkah tertatih tatih mendekati kediaman tempat tinggal   Nabi Musa alaihissalam.

Diketuknya pintu pelan-pelan sembari mengucapkan salam. Maka dari dalam rumah terdengar ucapan "Silakan masuk". Perempuan   yang sedang sedih itu lalu berjalan masuk sembari kepalanya terus merunduk. Air matanya bercucuran saat dia berkata, "Wahai Nabi Alloh. Tolonglah diriku, Doakan aku  agar yang Maha Kuasa berkenan mengampuni dosa keji ku." "Apakah dosamu wahai wanita ayu?" tanya Nabi Musa AS terkejut.

"saya takut mengungkapkannya." jawab wanita tersebut
"Katakanlah jangan ragu-ragu...!" bujuk Nabi Musa.
Maka wanita itupun terpatah bercerita, "Diriku...Telah berzina." Hati Nabi Musa tersentak mendengarnya.

Lalu wanita itu melanjutkan, "dari perzinaan tersebut aku  pun hamil. Setelah anak itu lahir, aku langsung mencekik lehernya hingga tewas ", kata perempuan   itu seraya menangis dengan keras.

Nabi musa sangat murka lalu menghardik," wanita keji, minggat engkau  asal sini...!!! Agar siksa Allah tidak jatuh ke pada rumahku sebab perbuatanmu. Pergiii...!". Teriak Nabi Musa mengusir perempuan itu.

Perempuan   berwajah ayu itu dengan hati bagaikan kaca membentur batu, hancur...dia segera bangkit dan  melangkah keluar. Beliau terantuk-antuk ke luar dari pada rumah Nabi Musa. Ratapan tangisannya amat memilukan. Ia tidak tahu  kemana lagi hendak mengadu. Bahkan dia tidak tahu kemana dia harus pergi. Bila seseorang Nabi saja sudah menolaknya, bagaimana dengan manusia lain ?

 Terbayang dalam benaknya betapa besar  dosanya, betapa durjana perbuatannya. Perempuan itu tidak tahu bahwa setelah dia pergi dari rumah Nabi Musa, Malaikat Jibril turun mengunjungi Nabi Musa.
Sang Malaikat  Jibril lalu bertanya, "Mengapa engkau  tidak menerima seorang perempuan   yang hendak bertaubat dari dosanya?

Tidakkah kamu memahami dosa yang lebih besar/dasyat daripadanya ?"

Nabi Musa kaget. "Dosa apakah yg lebih dasyat daripada kekejian wanita pezina dan  pembunuh tersebut ?" Maka Nabi Musa dengan serius bertanya kepada Jibril.

"Apakah benar ada dosa yang lebih besar/dasyat daripada si perempuan   yang nista itu?"
"ada...!!!!" Jibril menjawab dengan tegas.
"Dosa apa itu?" tanya Nabi Musa.

"Orang yang meninggalkan shalat dengan sengaja dan  tanpa menyesal. Orang tersebut dosanya lebih akbar/besar dari pada 1000 kali berzina".

Mendengar penjelasan malaikat Jibril Nabi Musa kemudian buru buru memanggil perempuan   tersebut untuk kembali kepadanya. Beliau mengangkat tangan menggunakan khusuk untuk memohonkan ampunan pada Allah untuk wanita tadi.

Nabi Musa sekarang menyadari, orang yg meninggalkan sembahyang dengan sengaja serta tanpa penyesalan ialah sama saja seperti berpendapat bahwa shalat itu tidak wajib  serta tidak perlu atas dirinya. Berarti orang itu seakan-akan menganggap remeh perintah Allah Ta ala, bahkan seolah-olah menduga Allah tidak punya hak untuk mengatur serta memerintah hamba-Nya.

Sedang orang yang bertobat dan  meratapi dosanya  berarti masih memiliki iman didadanya serta percaya bahwa Allah maha pengampun . Itulah sebabnya ilahi selalu mau menerima kedatangan hamba yang bertaubat.

Dikutip asal kitab   30 kisah teladan - KH. Abdurrahman Arroisy -  pada hadist Nabi sholallohu alaihi wasallam disebutkan : Orang yang meninggalkan shalat lebih besar dosanya dibanding dengan orang yang membakar tujuh puluh kitab Al-Qur'an, membunuh tujuh puluh nabi dan berzina dengan ibunya pada dalam Ka'bah.

Dalam hadist yg lainnya disebutkan bahwa orang yg sengaja meninggalkan sholat hingga terlewat waktu, lalu ia mengQodonya, maka dia akan menerima siksa di neraka selama satu huqub. Satu huqub adalah  80 tahun. 1 tahun terdiri berasal 360 hari, sedangkan 1 hari di akhirat sama dengan 1000 tahun di dunia.

Demikianlah catatan,  Dosa Yang Lebih Besar dari Zina dan Membunuh Bayi,  semoga menjadi pelajaran bagi kita serta ada niat buat melaksanakan kewajiban sholat dengan istiqomah....aamiin.

Sumber : suaranetizen.com

Setiap manusia di dunia ini selalu berusaha untuk mengumpulkan amal kebaikan untuk bekal di akhirat kelak, tetapi ternyata ada orang yang tetap berpahala meski berhenti beramal. Sungguh beruntung bagi hamba yang istimewa seperti ini karena Allah telah menjamin pahalanya meskipun dia sudah berhenti beramal. Siapakah orang yang beruntung ini?



Inilah Golongan Orang yang Pahalanya Terus Mengalir Meski Sudah Berhenti Beramal
Setiap muslim berlomba-lomba untuk menanam kebaikan dan beramal untuk bekal di akhirat kelak karena Allah SWT telah mempersiapkan pahala dalam Islam yaitu tempat terindah surga bagi hamba yang beriman dan bertaqwa kepada-Nya, selain itu Allah juga telah menyiapkan neraka bagi hamba yang membangkang dan selalu berbuat dosa.

Banyak muslim yang melakukan berbagai ibadah dan sibuk beramal tetapi tidak mendapatkan pahala, mengapa demikian? Alasan utamanya adalah karena tidak ikhlas melakukan amal dan hanya ingin dipuji oleh orang lain. Sedangkan ada seorang muslim lainnya yang justru telah berhenti melakukan amal tetapi malaikat tetap mencatat amal kebaikannya seperti biasanya tanpa menguranginya meskipun sedikit. Siapakah orang-orang yang beruntung ini?

Dalam hadits Nabi telah diceritakan bahwa malaikat akan tetap mencatat amal baik atau pahala seseorang meskipun dia telah berhenti melakukan amal tersebut, orang-orang ini adalah orang yang sedang sakit dan pada kondisi sehat mereka telah banyak melakukan amal kebaikan dengan ikhlas dan semata-mata hanya untuk Allah SWT, inilah pahala menurut Islam.


Allah SWT telah menjamin pahala bagi setiap hamba-Nya yang selalu bertaqwa dan beramal sholeh dengan ikhlas tanpa mengharapkan pujian dari orang lain. Seseorang yang telah terbiasa melakukan ibadah dan amalan kebaikan dengan ikhlas maka Allah akan menjamin pahalanya meskipun dia telah berhenti beramal karena sakit.

Dalam hadits nabi itu telah dijelaskan bahwa malaikat melapor kepada Allah karena tidak mendapati seorang hamba yang biasa melakukan ibadah dengan ikhlas karena dia sedang terbaring sakit sehingga malaikat tidak adapat mencatat amal kebaikannya. Maka Allah SWT menyuruh kedua malaikat-Nya untuk tetap mencatat amal kebaikan yang telah dilakukan oleh hamba-Nya ini ketika dia sedang sehat selama masa sakitnya hingga meninggal dunia. Sungguh beruntung bagi manusia yang selalu terbiasa melakukan amal kebaikan karena Allah SWT akan tetap menjamin pahalanya meskipun dia telah berhenti melakukan amal kebaikan dan tercatat sama persis seperti saat masih sehat, inilah hikmah sakit menurut islam.

Maka dari itu sebaiknya sebagai seorang muslim kita harus membiasakan diri melakukan amal kebaikan dengan ikhlas tanpa mengharap pujian dari orang lain dan semasa sehat hendaknya kita memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT.

Sakit bukanlah hal yang sangat menyakitkan karena Allah SWT telah memberikan kenikmatan dalam sakit kepada setiap manusia yang terbiasa melakukan amal kebaikan semasa sehatnya dengan menjamin pahala atas semua amal kebaikan yang dilakukannya hingga dia sembuh atau meninggal dunia.

Sakit bukanlah sesuatu yang harus kita sedihkan, sebagai seorang muslim kita harus selalu bersyukur dan bersabar dalam segala keadaan baik dalam kondisi sehat maupun sakit karena dalam setiap keadaan itu terdapat pelajaran yang bisa kita peroleh. Sakit merupakan sarana untuk meminta ampunan atas semua dosa-dosa yang telah kita perbuat dan sebagai media untuk melatih kesabaran dan juga sebagai media untuk mensyukuri kenikmatan Allah yang diberikan saat kita sehat.

Demikian informasi seputar golongan orang yang tetap berpahala meski berhenti beramal, semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung itu.

sumber : www.kabar-subuh.blogspot.com

sinyalislam

Jibril datang kepada Rasulullah pada waktu yang ia tidak biasa datang dalam keadaan berubah mukanya, maka ditanya oleh Rasululah Saw:
Ilustrasi

“Mengapa aku melihat kau berubah muka (wajah)?” Jawabnya: “Ya Muhammad, aku datang kepadamu di saat Allah menyuruh supaya dikobarkan penyalaan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui bahwa neraka Jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, dan siksa Allah itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya”.

Lalu Rasullulah Saw bersabda:
“Ya Jibril, jelaskan padaku sifat Jahannam”.
Jawabnya: “Ya. Ketika Allah menjadikan Jahannam, maka dinyalakan selama 1000 tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan 1000 tahun sehingga putih, kemudian 1000 tahun sehingga hitam, lalu menjadi hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi Allah, andaikan terbuka sebesar lubang jarum niscaya akan dapat membakar semua penduduk dunia karena panasnya. Demi Allah, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi niscaya akan mati penduduk bumi karena panas dan basinya.

Demi Allah, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut dalam Al-Quran itu diletakkan di atas bukit, niscaya akan cair sampai ke bawah bumi yg ke 7. Demi Allah, andaikan seorang di ujung barat tersiksa, niscaya akan terbakar orang-orang yang di ujung timur karena sangat panasnya. Jahannam itu sangat dalam, perhiasannya besi dan minumannya air panas bercampur nanah, dan pakaiannya adalah potongan-potongan api. Api neraka itu ada 7 pintu, jarak antar pintu sejauh 70 tahun, dan tiap pintu panasnya 70 kali dari pintu yg lain”.

Dikatakan dalam Hadith Qudsi: “Bagaimana kamu masih boleh melakukan maksiat sedangkan kamu tak dapat bertahan dengan panasnya terik matahariKu. Tahukah kamu bahwa neraka jahanamKu itu: mempunyai 7 tingkat.

  • Setiap tingkat mempunyai 70.000 daerah.
  • Setiap daerah mempunyai 70.000 kampung.
  • Setiap kampung mempunyai 70.000 rumah.
  • Setiap rumah mempunyai 70.000 bilik.
  • Setiap bilik mempunyai 70.000 kotak.
  • Setiap kotak mempunyai 70.000 batang pokok zaqqum.


  • Di bawah setiap pokok zaqqum mempunyai 70.000 ekor ular.
  • Di dalam mulut setiap ular yang panjangnya 70 hasta mengandung lautan racun yang hitam pekat. Dan di bawah setiap pokok zaqqum terdapat 70.000 rantai. 
  • Setiap rantai diseret oleh 70.000 malaikat”.


“Api yang ada sekarang ini, yang digunakan bani Adam untuk membakar hanyalah 1/70 dari api neraka jahannam” (HR. Bukhari-Muslim). “Apabila neraka itu melihat mereka dari tempat yang jauh, mereka akan mendengar kegeraman dan suara nyalanya”. (QS. Al-Furqan: 11).

“Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu menggelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah lantaran marah”. (QS. Al-Mulk: 7).

Air di jahannam adalah hamim (air panas yang menggelegak), anginnya adalah samum (angin yang amat panas), sedang naungannya adalah yahmum (naungan berupa potongan-potongan asap hitam yang sangat panas) (Lihat QS. Al-Waqi’ah: 41-44).

Rasulullah Saw meminta Jibril untuk menjelaskan satu per satu mengenai pintu-pintu neraka tersebut. “Pintu pertama dinamakan Hawiyah (arti harfiahnya: jurang), yang diperuntukkan bagi kaum munafik dan kafir. Pintu ke 2 dinamakan Jahim, yang diperuntukkan bagi kaum musyrikin; Pintu ke 3 dinamakan Saqar, yang diperuntukkan bagi kaum shobiin atau penyembah api; Pintu ke 4 dinamakan Ladha, diperuntukkan bagi iblis dan para pengikutnya; Pintu ke 5 dinamakan Huthomah (artinya: menghancurkan hingga berkeping-keping), diperuntukkan bagi kaum Yahudi; Pintu ke 6 dinamakan Sa’ir (arti harfiahnya: api yang menyala-nyala), diperuntukkan bagi kaum kafir.

Rasulullah bertanya: “Bagaimana dengan pintu ke 7?” Sejenak malaikat Jibril seperti ragu untuk menyampaikan siapa yang akan menghuni pintu ketujuh. Akan tetapi Rasulullah Saw mendesaknya sehingga akhirnya Malaikat Jibril mengatakan, “Pintu ke 7 diperuntukkan bagi umatmu yang berdosa besar dan meninggal sebelum mereka mengucapkan kata taubat”.

Mendengar penjelasan yang mengagetkan itu, Rasulullah Saw pun langsung pingsan, Jibril lalu meletakkan kepala Rasulullah Saw di pangkuannya sehingga sadar kembali dan sesudah sadar beliau bersabda: “Ya Jibril, sungguh besar kerisauan dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umat ku yang akan masuk ke dalam neraka?” Jawabnya: “Ya, yaitu orang yg berdosa besar dari umatmu.”

Nabi Muhammad lalu menangis, Jibrail pun ikut menangis. Kemudian nabi saw langsung masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk sembahyang. Setelah kejadian itu, beliau tidak berbicara dengan siapapun selama beberapa hari, dan ketika sholat beliau pun menangis dengan tangisan yang sangat memilukan. Karena tangisannya ini, semua sahabat ikut menangis, kemudian mereka bertanya: “Mengapa beliau begitu berduka?” Namun beliau tidak menjawab.

Sayyidah Fathimah az-Zahra melihat beliau karena tangisan yang tiada henti. Wajah Nabi menjadi pucat dan pipinya menjadi cekung. Sebagaimana yang diceritakan oleh Kasyfi, bahwa bumi tempat beliau duduk telah basah dengan air mata. Sayyidah Fathimah as berkata kepada ayahnya, semoga hidupku menjadi tebusanmu, “Mengapa Ayahanda menangis?”

Nabi saw menjawab: “Ya Fathimah, mengapa aku tidak boleh menangis? Karena sesungguhnya Jibril telah menyampaikan kepadaku sebuah ayat yang menggambarkan kondisi neraka. Neraka itu mempunyai 7 pintu, dan pintu- pintunya mempunyai 70.000 celah api. Pada setiap celah ada 70.000 peti mati dari api, dan setiap peti berisi 70.000 jenis azab”.

Setelah mendengar ucapan tersebut, para sahabat Nabi menangis dan meratap, “Derita perjalanan alam akhirat sangat jauh, sedangkan perbekalan sangat sedikit”.

Sementara sebagian lagi menangis dan meratap, “Seandainya ibuku tidak melahirkanku, maka aku tidak akan mendengar tentang azab ini”.

Ammar bin Yasir berkata, “Andaikan aku seekor burung, tentu aku tidak akan ditahan (di hari kiamat) untuk di hisab”.

Bilal yang tidak hadir di sana datang kepada Salman dan bertanya sebab-sebab duka cita itu. Salman menjawab: “Celakalah engkau dan aku, Sesungguhnya kita akan mendapat pakaian dari api, sebagai pengganti dari pakaian katun ini dan kita akan diberi makan dengan zaqqum (pohon beracun di neraka).

Sungguh dialog yang sangat mengerikan. Para sahabat meratap dan menangis, bahkan Nabi dan malaikat Jibril pun menangis saat mengetahui tentang dasyatnya siksa di neraka. Bagaimana dengan kita..?

Sumber: cintaislaminews.blogspot.co.id

WONDHOEZ

Contact Form

Name

Email *

Message *

Powered by Blogger.
Javascript DisablePlease Enable Javascript To See All Widget